PhD Life #Jepang #5
#2-30032017
#2-30032017
Bocah Cirebon #1
Aula Katamso, SMA N 1 Yogyakarta.
Sekitar Bulan Januari atau Februari 2006.
kami, siswa kelas 3 dikumpulkan di aula penuh mistik ini. banyak yang bilang aulanya angker.
bagaimana tidak angker. namanya aja katamso. tapi saya ndak tau yang dimaksud katamso itu pahlawan revolusi atau pak katamso pendahulunya pak kliwon.
yang tau tolong saya diberi pencerahan..
:D
yang jelas saya tidak berani berlama-lama di situ sendirian. apalagi diatas panggungnya. mungkin kalo ada tuyul sendirian di panggung, dia juga akan lari. takut sama penunggu yang lebih gedhe..
kami dikumpulkan. akan ada penjelasan beasiswa ke Jerman oleh salah satu agen pencari bakat, eh pencari mahasiswa yang tertarik studi S1 ke negrinya Oliver Khan.
Partner in crime saya, si ketua rohis yang bijak, Nafis berada disebelah saya.
kami memang berjodoh saat di SMA sepertinya. hubungan kami bukan pertemanan lagi apalagi sahabat. lebih dari itu.
kami lebih ke simbiosis mutualisme. Serius. Saling menguntungkan.
awal-awal di SMA, uang saku saya masih terbatas. sekitar 50 ribu untuk 2 atau 3 minggu waktu itu. tergantung seberapa kuat saya tidak jajan.
tinggal di rotowijayan, ngenger sama bulik. Adiknya bapak. setiap hari berangkat naek sepeda federal warisan dari dek Ferry. anak tengahnya Bulik.
setiap hari, demi menghemat APBN jomblo seperti saya, saya membawa bekal makanan.
Biar tidak jajan. tapi perut tetap kenyang.
BTW, teman duduk saya sedari awal adalah siswa luar provinsi yang tersesat di jogja. anak cirebon yang terkenal akan rebonnya itu.
sudah saya sebutkan. Namanya nafis.
dia memiliki kelebihan berkebalikan dengan saya.
dia punya uang saku berlebih. tapi susah dapat makanan yang sesuai "porsi" dia.
dan saya bawa porsi berlebih yang sesuai dengan porsi dia. klop kan.
:)
hari ketiga GVT (semacam masa orientasi siswa baru), perjanjian yang merubah hidup saya itu ditanda tangani dengan jabat tangan. lho..
:D
bekal makan saya akan dibeli oleh nafis 3000 rupiah. cukup bagi saya untuk beli soto dikantin yang masih 1000 ditambah jajan lainnya.
setiap hari, sejak hari itu, saya selalu bawa bekal ke SMA. nasinya saya tambah agar "porsi" nafis terpenuhi.
dan saya dapat 3000.
kami berjodoh soal makan memakan.
--
Pemateri beasiswa S1 di jerman menjelaskan tentang hidup dan bertahan hidup di Jerman.
bahwa memang tidak ada beasiswa. atau sulit dapat beasiswa. tapi universitasnya gratis. ndak bayar. cukup cari uang buat bertahan hidup saja.
begitu kata pemateri.
dijelaskan pula cara mendapatkan dorm atau rumah atau kos disana.
dan kami tiba-tiba saling lirik cengar-cengir penuh arti.
"Padakke gampang wae yo sin nggolek uang segitu".. bayangkan orang cirebon bicara jawa. logatnya. ditirukan juga boleh. dia memang lucu. teman saya ini.
"Iyoe.. wong ndaftar di univ. swasta jogja ae aku ra mampu e vis"..
Aku terceletuk bertanya.
eh.. kalo kota pilihan mu di jerman apa?
"Munchen no sin"
aku Berlin vis..
kan bisa kita puasa setiap hari ya vis. jadi uang makan bisa ditekan.
betul sin. cerdas kowe.
terus tinggalnya dimana vis?
jadi marbot ae..
weh iyo yo.. jadi marbot ae yo..
iyo sin. dah biasa di jakarta kuwi.
oke. aku jadi marbot di masjid Berlin. kowe marbot masjid Munchen yo.
hahahahhaha... ketawa kami membayangkan hidup dijerman dengan status marbot.
--
Candaan ini sepertinya ditungguin malaikat. atau malah malaikat menanti-nanti kami bicara soal ini. dan meng amini candaan kami.
hanya 9 bulan setelah lulus SMA, saya pindah ke asrama masjid syuhada.
disitu hampir 4 tahun. kemudian pindah ke masjid darussalam kali code sekitar 2 tahun.
semuanya jadi marbot. alias pemuda penunggu masjid itu... yang kalo puasa berkahnya numplak ke marbot semua..
:D
pun saat belajar di manila, saya pun "memarbotkan" diri. tapi karena masjid ada didalam KBRI, kami hanya bisa mengadakan acara pengajian dan rihlah.
Takdir memang blm selesai kami jalani. saya ternyata belum jadi marbot di Berlin.
dan nafis... ahhhh.. dia jadi orang besar sekarang.
Freeport dulu dia yang audit. penggede BPK dia.
sekarang lagi di Jogja ambil master di Universitas Gadjah Mungkur. ehhh.. Gadjah Mada.
belum ada pula marbot nafis di masjid munchen.
sepertinya, Allah punya versi-Nya sendiri untuk kami.
dimanapun berada, kami senantiasa mencintai... Masjid.
--
dan partner in crime saya sekarang adalah Wahid dan Nuri.
duo Afghan yang bikin geleng-geleng.
--
NB: Nafis sekarang sudah berkeluarga. istrinya cantik dan anaknya ganteng putih. Alhamdulillah.
warisan terbesarnya ternyata ditularkan untuk daya pikir anak. bukan pigmen.. hehehe..
dia masih menggebu-gebu setiap ketemu dan teringat soal marbot.
kapan-kapan akan ada cerita saya dan nafis soal GC dan GS.
Comments
Post a Comment